Rabu, 24 April 2013

manusia menurut al-kitab


MANUSIA MENURUT ALKITAB DAN APLIKASINYA BAGI PRINSIP BELAJAR


Oleh: B.S. Sidjabat

Manusia dalam pandangan Alkitab.
          Untuk lebih jelasnya, marilah kita pertimbangkan sejumlah informasi Alkitab mengenai siapa dan apa manusia itu.
          Kejadian 1:26,27 menjelaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang membawa rupa dan gambar-Nya.  Kalau Allah berpribadi, maka manusia juga berpribadi. Allah memberikan berbagai potensi dalam diri manusia, seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir, merasakan, juga berbuat, agar mempermuliakan Dia.

          Kejadian 2:7 mengemukakan bahwa manusia yang diciptakan Allah itu terbentuk dari debu tanah dan padanya dihembuskan nafas kehidupan (Ibr. nefes hayyah). Jika demikian, manusia sebagai individu (pribadi) memiliki dimensi fisik (jasmani) yang terikat kepada alam. Disamping itu, manusia memiliki aspek non-fisik atau rohani (spiritual).  Adanya nefes hayyah  itu membuat manusia membutuhkan Allah di dalam seluruh kehidupannya.

          Markus 12:29,30 menegaskan perkataan Yesus agar kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi.  Itu berarti pada diri manusia terkandung aspek lahirian dan non lahiriah; aspek material dan non-material dalam satu kesatuan. Hati biasanya dianggap sebagai pusat kehidupan dalam diri manusia, tempat pertimbangan, perasaan, dan sikap, juga kehendak.  Jiwa, biasanya diartikan sebagai perasaan. Kekuatan terkait dengan fisik, jasmani, penginderaan, sistem syaraf dan endokrin. Akal budi merupakan komponen yang membuat manusia mengerti dan memahami.

          Lukas 2:40,52 menjelaskan bahwa Tuhan Yesus bertumbuh dalam fisiknya, dalam hikmatnya, dalam spiritual dan dalam aspek sosialnya. Kalau mau bertumbuh dalam keutuhan, maka kita harus mengakifkan semua dimensi itu.

          1 Tesalonika 5:23 mengemukakan uacapan berkat rasul Paulus. Di dalamnya terkandung konsep manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh.  Tubuh berkaitan dengan pancaindera. Jiwa sering diartikan terkait dengan pikiran (akal), emosi (perasaan), dan kehendak (will).  Roh (pneuma – Yun) terkait dengan dimensi yang membuat kita mampu meresponi komunikasi Allah yang adalah roh adanya (Yoh 4:24).

          Ibrani 4:12 mengindikasikan bahwa manusia memiliki roh dan jiwa; itu berarti aspek roh (pneuma) memiliki perbedaan dengan jiwa (psyche). Menurut pendapat saya, roh manusia berhubungan dengan Tuhan.  Jiwa terkait dengan diri sendiri dan lingkungan sosial kita.  Efek dari lingkungan kita responi melalui jiwa – akal, pikiran, kehendak.

          Ibrani 9:14 menunjukkan bahwa manusia juga memiliki suara hati yang perlu disucikan oleh darah Kristus dari segala kejahatan supaya dapat beribadah kepada Dia dengan benar.  Roma 2:14,15; 9:1 menegaskan bahwa suarahati (Yun. syneidesis) menjadi tanda bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan.

          Ada banyak nats Alkitab yang juga berbicara tentang suara hati ini seperti dalam  Roma 13:5; 1 Kor 8:7,10,12; 10:28,29; 2 Kor 4:2; 1 Petr 2:19; Kis 23:1; 24:16; 1 Tim 1:5,19; 3:9; 4:2; 2 Tim 1:3; Ti 1:15; Ibr 10:22; 13:18; 1 Petr 3:16,21. Kalau demikian apa artinya hal ini bagi aktivitas belajar?

          Ruth Beechick dalam tulisannya A Biblical Psychology of Learning (Accent Books, 1982) mengemukakan bahwa dalam Alkitab terdapat 800 lebih istilah hati, sedangkan pikiran hanya sekitar 80 kali. Itu berarti, menurut Beechick, hati sangat sentral dalam kegiatan belajar.  Hati anak didik atau pelajar harus dipersiapkan dimotivasi, supaya memiliki ketetapan (heart set), komitmen untuk belajar dan berdisiplin, sehingga hatinya sangat mengasihi Tuhan.  Pikiran diaktifkan melalui informasi. Dalam pemahaman Beechick, kasih dan penerimaan orangtua atau guru amat sentral dalam menyiapkan hati anak untuk giat mencari dan mempertimbangkan informasi yang didengar dan dibacanya.

Aplikasi untuk prinsip belajar.
          Dari keterangan di atas dapat saya kemukakan beberapa prinsip belajar bertolak dari konsep manusia, menurut ajaran Akitab. Pertama, manusia mahluk berdimensi fisik (jasmani), yang menurut sains memiliki syaraf, kelenjar, kerangka, sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem sirkulasi, sistem pembuangan.  Kesehatan fisik mempengaruhi aktivitas belajar.  Penginderaan penting dalam kegiatan belajar; informasi diperoleh lewat pengideraan dan kita membentuk persepsi, bahkan mengingat apa yang kita anggap berkesan dan bermakna.

          Kedua, manusia mahluk sosial.  Ia membutuhkan sesamanya, baik sejenis maupun lawan jenisnya (Kej 2:18,24,25).  Orangtua dan anak saling melengkapi dalam kegiatan belajar di dalam perjalanan hidup mereka.  Manusia saling mengasah, demikian tegas Amsal (27:17); juga ada efek pergaulan terhadap kepribadian dan watak orang.

          Keluarga merupakan komunitas primer dalam pembelajaran manusia. Anak diajar oleh orangtuanya sebelum memasuki tetangga, sekolah dan gereja.  Berbagai keterampilan dasar dipelajari anak dalam keluarga – pola-pola komunikasi dan disiplin serta nilai hidup. Bahasa juga dipelajari dalam konteks ini.

          Dalam Perjanjian Baru, komunitas orang percaya (gereja) sangat ditekankan dalam rangka pembelajaran (Kis 2:42-47; Kol 3:15-16; Ibr 10:24,25). Iman bertumbuh dalam interaksi komunitas, yang beribadah kepada Tuhan, juga aktif berdoa dan saling melayani. Yesus mengatakan bahwa perkumpulan orang percaya wadah kehadiran-Nya (Mat 18:19,20). Dia datang untuk membangun jemaat-Nya di bumi (Mat 16:18).  Aneh bila ada tendensi orang percaya ingin belajar tetapi memisahkan diri dari komunitas.

          Ketiga, manusia mahluk alam. Itu berarti alam juga mempengaruhi manusia dalam kegiatan belajar.  Kitab Amsal menegaskan agar manusia belajar kepada alam, tumbuhan dan binatang – semut, cicak, pelanduk, belalang, dll.  Yesus juga memakai cerita alam untuk mengajarkan Kerajaan Allah – penabur benih; biji sesawi; nelayan dan pukat; pembuat adonan; juga tindakan mengubah air menjadi anggur atau memberi makan 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan.  Yesus mengajar murid-murid di berbagai lokasi, di perahu, di tepi danau, di atas bukit, di rumah, di sinagog, dll.  Di malam hari, Yesus beristirahat, karena begitulah hukum alam yang harus ditaati dimana kita beristirahat.

          Keempat, manusia mahluk rasional. Pikiran atau akal budi harus digunakan bagi kemuliaanNya.  Belajar merupakan aktivitas nalar. Pola nalar harus dikembangkan supaya memahami dengan baik dan benar.  Pikiran harus mendapat pembaruan (Rom 12:2). Pikiran harus dilatih untuk hal positif (Fil 4:4).

          Kelima, manusia mahluk spiritual. Roh manusia aktif dalam belajar untuk pertumbuhan imannya.  Ketika roh manusia didiami oleh Roh Allah, dipenuhi, dipimpinNya, maka ia semakin memahami kebenaran dan hidup sesuai kebenaran Tuhan.  Roh itu memampukan roh manusia mengerti perkara-perkara iman.  Roh itu menumbuhkan akhlak moral (Gal 5:22-23).

          Keenam, manusia mahluk bersuara hati.  Jika demikian maka pembentukan suara hati sangat perlu kita perhatikan dalam belajar.  Kalau suara hati orang lemah maka semangat dan keputusannya juga lemah. Suara hati harus disucikan oleh darah Kritus. Suara hati harus tunduk pada otoritas Yesus. Suara hati harus diperkaya oleh firman Tuhan.

          Jadi, belajar menurut konsep Alkitab sangat kompleks, dan berlangsung dalam setiap detik kehidupan kita.  Satu hal penting lagi, bahwa tujuan belajar manusia ialah mengenal Allah Tritunggal yang kudus, hingga mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi, juga dengan suara hati yang bersih.  Seperti Allah berbicara dengan berbagai cara kepada manusia (Ibr 1:1-3), manusia juga belajar mengenal Dia, mengenal dirinya, serta mengenal sesama dan lingkungannya dengan berbagai pendekatan.  Peniruan, pembiasaan, aktivitas mendengar, melihat, mencercap, mencium, menyentuh, melakukan, juga merasakan, semua penting dalam kegiatan belajar. Kreativitas menjadi sangat penting dalam kehidupan ini.


Description: PrintDescription: E-mail
Petunjuk Hukum
Firman Allah dalam al Quran surah al Baqoroh ayat 30 sebagai berikut :
“Ingatlah ketika Robb engkau  berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"  Berfirman (Allah): "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak Kamu ketahui."
Maksud
Ayat tersebut bermuatan antara lain bahwa susunan dalam bentuk dialog itu bertujuan untuk memberikan kejelasan perihal keberadaan Malaikat yang dengan itu termasuk bagian dari rukun iman dengan tugas dan tanggung jawabnya yang cukup banyak diterangkan dalam al Quran dan al Hadits Rasulullah Muhammad saw sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Fathir ayat 1, disamping kondisi manusia dalam perjalanan hidupnya wajib berhadapan dengan cobaan, yang memang telah menjadi ketetapan dari sunatullah sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Mulk ayat 2. Mengingat bahwa hidup ini adalah pengabdian dan janji sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Bayyinah. Inilah arti dari sumpah manusia di alam ruh.
Pembahasan
Bahwa Adam sebagai bapak ummat manusia sampai akhir zaman, dengan ketetapan sebagai “kholifah” yang berarti pengganti dari masyarakat jin, sehingga dengan itu akan memberikan arti penuh tentang keberadaan manusia sebagai makhluq sosial sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah an Nisa ayat 1. Dalam hal ini Rasulullah Muhammad saw telah menjelaskan bahwa keturunan Adam terpilih lima orang yaitu Nuh as, Ibrohim as, Musa as, Isa as dan Muhammad saw, kemudian yang paling sempurna adalah Muhammad saw sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah asy Syuro ayat 13.
Maka wajarlah kalau Allah memberikan beberapa petunjuk penting atas hambaNya yang terpilih sebagai Ulil Azmi sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Ahqof ayat 35, antara lain :
  1. Ketetapan Allah terhadap Nuh as dalam perintahNya membangun ummat yang benar melalui petunjukNya yaitu sistem dalam ”pembuatan sebuah kapal” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Hud ayat 37.
  2. Ketetapan Allah atas Ibrohim as sebagai gambaran dari suatu bentuk kehidupan manusia dalam pembangunan masyarakat ummat sedunia “dengan keberadaannya sebagai imamah” atas seluruh ummat manusia sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Baqoroh ayat 124, yang digelar menjadi dasar pedoman disebut “Millah” yaitu ketatalaksanaan yang dilandasi oleh Kebenaran petunjuk Allah dan panduan RasulNya sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Hajj ayat 78.
  3. Ketetapan Allah atas Musa as tentang keberadaan Bani Isroil berdasarkan janjiNya, sehingga perjalanan Bani Isroil dalam Taurot menuju “bangunan khilofah” yang dimulai dari kerasulan Daud as sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah Shod ayat 26, sehingga Kitabullah sebagai penyelesai berbagai sengketa ummat manusia sebagaimana telah dipandukan oleh para Rasul dari kalangan Bani Isroil hal ini  Allah tetapkan dalam al Quran surah al A’rof ayat 160 dalam pase pertama dan akan berlanjut kepada ummat Muhammad saw pada pase terakhir sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah an Nur ayat 55.
  4. Ketetapan Allah atas Isa ibnu Maryam yang dengan perutusannya membawa Injil adalah sebagai “sinyal bagi masa berakhirnya segala perutusan dan kekuasaan Bani Ya’qub” bagi perjalanan pengaturan atas ummat sedunia ini sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah az Zukhruf ayat 61. Kemudian Allah menetapkan “kesempurnaan al Quran atas seluruh Kitab terdahulu” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Baqoroh ayat 106 melalui ketatalaksanaan al Quran sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Furqon ayat 52 yang dipandukan oleh Rasulullah saw sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al An’am ayat 153..
  5. Ketetapan Allah atas Muhammad saw sebagai penutup seluruh Nabi dan Rasul sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Ahzab ayat 30 dan sebagai utusan atas seluruh ummat manusia sedunia sampai akhir zaman sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah as saba’ ayat 28 dalam menuntunkan panduannya sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Jatsiyah ayat 16 menuju “Rahmatan lil’Alamin” sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Anbiya ayat 107, maka berarti bahwa ummat Muhammad saw diperintah menjemput janji Allah melalui proses penegakkan kejujuran sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah an Nisa 135 dan mendakwahkan sistem Islam secara mendunia sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Qoshosh ayat 85 menuju Kehendak dan KekuasaanNya sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah at Taubah ayat 33 dan Hadits shohih riwayat Muslim dari jalan Syadad bin Aus dan Tsauban.
Itulah gambaran yang telah ditetapkan Allah semenjak Nuh as sampai dengan Muhammad saw sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah asy Syuro ayat 13 dan hal tersebut memberikan petunjuk kemutlaqkan al Quran sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah az Zumar ayat 23, sebagai berikut :
“Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Robb mereka, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorangpun pemberi petunjuk baginya”.
Inilah al Quran sebagai “pedoman tunggal” untuk ummat manusia sedunia dan merupakan satu-satunya kepastian sebagai titik temu “antara Kehendak Allah dengan perilaku manusia dalam kemanusiaan” yang wajib berlaku sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah al Jatsiyah ayat 20. Dan ini dikuatkan melalui kalimat “wa’ala-llahi qoshdus sabil” yaitu haq mutlaq Allah menunjuki jalan yang benar sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah an Nahl ayat 9.
Dengan yang tersebut maka tiada satu permasalahanpun perihal kemanusiaan dan keummatan yang tidak terjawab melalui petunjuk al Quran. Hanya sekarang tergantung sejauhmana kefahaman terhadap aqidah Islam dalam hubungannya dengan dua macam perintah bertadabbur sebagaimana Allah tetapkan dalam al Quran surah an Nisa ayat 82 dan surah Muhammad ayat 24. Maka inilah suatu kepastian dari Allah.

badan mikro


Categories :
Badan mikro hampir menyerupai lisosom, berbentuk agak bulat, diselubungi membran tunggal, dan di dalamnya berisi enzim katalase dan oksidase. Organela ini disebut badan mikro karena ukurannya kecil, hanya bergaris tengah 0,3–1,5 μm.

Terdapat dua tipe badan mikro, yaitu peroksisom dan glioksisom. Peroksisom terdapat pada sel hewan, fungi, dan daun tanaman tingkat tinggi. Perhatikan Gambar untuk mengetahui letak peroksisom di dalam sel. Peroksisom berperan dalam oksidasi substrat menghasilkan H2O2 (bersifat racun bagi sel) yang selanjutnya dipecah menjadi H2O + O2. Peroksisom penting dalam penyerapan cahaya dan respirasi sehingga berhubungan erat dengan kloroplas dan mitokondria. Peran lain peroksisom selain melindungi sel dari H2O2, juga berperan dalam perubahan lemak menjadi karbohidrat dan perubahan purin dalam sel. Glioksisom terdapat pada sel tanaman. Glioksisom berperan dalam metabolisme asam lemak dan tempat terjadinya siklus glioksilat.
Description: Struktur peroksisom



Kelebihan dan kekurangan metode pemecahan masalah

 
 
Metode ini merupakan metode yang merangsang daya  pikir peserta  didik dan menggunakan wawasan  tanpa melihat kualitas jawaban yang dikemukakan oleh peserta didik. Untuk menggunakan metode ini, seorang guru harus pandai-pandai merangsang peserta didiknya untuk mengeluarkan pendapatnya.
Kelebihan dari metode ini adalah sebagai berikut :
1.      Membuat peserta didik mampu menghadapi masalah.
2.      Melatih peserta didik  menyelesaikan masalahnya  secara terampil.
3.      Mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik menjadi lebih kreatif.
Sedangkan kekurangan dari metode yang juga disebut problem solving  ini  adalah sebagai berikut  :
1.      Membutuhkan waktu yang cukup lama.
2.      Membutuhkan keterlibatan banyak orang.